Teater Lingkar



Mengikuti Teater Lingkar dapat memberikan berbagai manfaat yang signifikan bagi para anggotanya. Teater Lingkar tidak hanya menjadi wadah untuk mengembangkan kemampuan akting dan kreativitas, tetapi juga memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan berbagai individu dari latar belakang yang berbeda, memperkaya pengalaman sosial dan kultural. Melalui latihan rutin dan pementasan, anggota dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, kepercayaan diri, dan kerja tim. Selain itu, proses berimprovisasi dan berakting juga membantu dalam mengasah empati dan pemahaman terhadap berbagai perspektif kehidupan. Dengan begitu, Teater Lingkar menjadi sarana yang efektif untuk pengembangan pribadi dan profesional, sekaligus memberikan kontribusi positif terhadap kebudayaan dan seni lokal.



Sejarah



Teater Lingkar merupakan salah satu pioner berdirinya teater-teater lain di Kota Semarang dan sekitarnya melalui spirit yang selalu ditularkan melalui pergaulan kesenian dan pertunjukan-pertunjukan. Sanggar Teater Lingkar bertempat di Jalan Gemah Jaya I No I Pedurungan Kidul, Kota Semarang. Pada awal berdirinya, Teater Lingkar merupakan prakarsa sekelompok anak muda di jalan Genuk Krajan II No 9 (sekitar Taman Singosari, Jalan Sriwijaya). Dulunya tempat tersebut merupakan terminal bus yang berdekatan dengan Taman Hiburan Rakyat (THR) Tegal Wareng. Sebagai tempat keramaian dengan beragam aktivitas, daerah ini sangat potensial menjadi tempat rawan pada hal-hal negatif. Oleh karena itu kelompok pemuda yang biasa mangkal disana berusaha menciptakan suatu aktivitas positif dan bermanfaat. Berkat kegigihan usaha, akhirnya membuahkan hasil dan terbentuklah Teater Lingkar.


Nama Teater Lingkar sendiri sarat dengan nilai-nilai filosofis yang menjadi dasar setiap anggotanya yaitu "Lingkar mempunyai satu titik pusat dengan jari-jari yang panjang" yang dapat dijabarkan bahwa semua anggota mempunyai tujuan yang sama dengan hak serta kewajiban yang sama yaitu menjaga estetika.


Sedangkan nilai filosofi yang tertera dalam logo Teater Lingkar yang bertuliskan itu adalah: gambar kaki tangan sebagai simbul laku/kerja, gitar simbol rasa. Jadi, dengan slogan "Teteg, tekun, teken, tekan" diharapkan agar para anggota Teater Lingkar senantiasa berada dalam setiap laku harus dengan rasa, "aja rumangsa, nanging bisa rumangsa" atau dalam bahasa Indonesia artinya "jangan merasa bisa, tetapi bisa merasakan".


Sistem keanggotaan yang terbuka dan sukarela membuat setiap orang yang punya minat terhadap seni peran dapat bergabung. Saat ini keanggotaan Teater Lingkar didominasi oleh anak muda dengan latar belakang status yang beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, buruh, pegawai swasta, pegawai negeri. Sikap kekeluargaan sangat dijunjung tinggi oleh setiap anggota. Pelestarian nilai-nilai budaya adalah salah satu misi sedang diemban oleh Teates Lingkar, dengan secara rutin setiap malam Jum'at Kliwon menyelenggarakan pergelaran wayang kulit di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) jalan Sriwijaya No. 29 Semarang. Teater Lingkar juga melakukan kerjasama dengan Stasiun TVRI Jawa Tengah untuk menyiarkan pementasan mereka dengan mengusung lakon yang mudah dicerna oleh pemirsa televisi dengan acara bertajuk Guyon Mathon, menyindir tapi tidak menimbulkan sakit hati orang lain.


Tercatat, beberapa nama seniman yang menjadi pegiat Teater Lingkar antara lain Maston (sutradara/aktor), Bung Kirno (sutradara/aktor), Budi Bobo (aktor), Alm. Wiek Ariwibowo (aktor), Prieh Raharjo (sutradara/aktor), Alm. Noer Laoet (sutradara/aktor), Alm. Giwing Purba (aktor/penulis naskah), Ossie Widiastuti (aktris), Eddie Morphin (sutradara/aktor), Eko Tunas (sastrawan/penulis skenario), Prie GS (sastrawan/penulis skenario), Jhony Nantono (praktisi televisi/penulis skenario), Alm. Agus Maladi Irianto (dekan FIB UNDIP/aktor). Sampai sekarang, mereka masih menyumbangkan gagasan dan karyanya untuk perkembangan Teater Lingkar.